I want to feel it. What it feels to have someone cared about you. Someone who’s waiting for your text every night. Someone who……………….. I want to feel it. Even just once, but I want to feel it.
“I will support him though, in the arena.”
“You go?”
“Of course, I go.”
Yeah, and now I have stranded in a place I used to be familiar with. I was a swimmer athlete, once. When I was in primary and middle school. A professional one. Gold medals in school competition became a tradition. Silver and bronze sometimes came in national competition. I was in glory back then.
“Kass, you need to pour the lotion. The sun is a little crazy up there.” Kyla said.
”Ampun deh! Ngga bisa lebih banyak lagi apa berkas-berkas yang harus diisi. Rasanya aku sudah eneg dengan berbagai berkas” keluh Alya. “Udah lah, Al, isi aja. Lebih milih mana, isi berkas bejibun tapi berangkat, atau udah ngelewatin seleksi berat ini tapi malah ngga berangkat sama sekali?” nasihat Tisha.
Aku dan 29 siswa pertukaran pelajar lain sedang mengisi berbagai berkas untuk melengkapi dokumen keberangkatan kami ke Amerika. Bandara Soekarno-Hatta pagi ini terlihat lebih lengang dari biasanya. Mungkin karena hari ini di ramalkan suhu akan memuncak dan terlebih lagi hari ini tepat setengah jalan bulan Ramadhan membuat warga Jakarta lebih memilih di rumah bersama keluarga.
Tapi tidak begitu dengan keluarga siswa-siswi pertukaran pelajar ini. Keluarga kami berjajar di luar lindungan koper yang sengaja disejajarkan sebagai batas antara murid dan keluarga. Yah, sebenarnya diantara keluarga-keluarga itu tidak ada keluargaku. Bapak dan Meme ada di Singapura sekarang, mengurusi bisnis travel dan tour mereka. Aku akan bertemu mereka nanti saat pesawatku transit di Bandara Changi.
Saat ini adalah saat terakhir siswa-siswi bisa bertemu dengan keluarga, sampai setahun kedepan. Setelah seminggu kita menjalani orientasi di Wisma Bhinneka, tidak ada waktu untuk bertemu dengan keluarga, sampai saat ini. Mungkin mereka sengaja membiasakan jauh dari orangtua sebelum kita benar-benar pergi.
“Keluargamu mana, Au? Apa saudara-saudaramu ngga ada yang datang?” tanya Alya. Aku dekat dengan Alya sejak kita satu kamar di Wisma Bhinneka, bersama Tisha dan Galuh. Tapi Galuh berbeda host country dengan aku, Alya dan Tisha. Dia ke Belanda, sementara kita ke Amerika.
“Aku kan ngga punya keluarga di Jakarta, Al. Semua keluargaku ada di Bali. Saat aku ke Jakarta, ya aku sudah berpamitan dengan mereka semua.” jawabku. Ada rasa pahit yang terasa saat aku mengucapkan kalimat terakhir. Tapi aku acuhkan itu dan fokus memeriksa berkas yang sudah selesai kuisi.
“Gimana dengan dia? Masa dia juga ngga datang kesini, hanya sekedar melihat untuk terakhir kali?” timpal Tisha. Sepertinya Alya mencubit Tisha dibalik tas-nya itu karena tiba-tiba Tisha mengaduh kesakitan, dan Alya memelototinya.
Aku hanya tersenyum hambar, tak mampu membalas perkataan Tisha yang to the point itu, dan memerhatikan teman-temanku ini. Tisha berasal dari Bandung, mungkin pergaulan disana mengajarkan dia untuk berani dan berterus terang. Berbeda dengan Alya yang berasal dari Jogja. Perkataannya halus dan dari ceritanya, dia tidak bisa berteriak atau mengumpat. Ditambah lagi Alya termasuk keturunan bangsawan Jogja. Berbeda denganku yang tumbuh di pantai. Suaraku tinggi dan memanjat pohon bukan hal asing bagiku. Pantai Lovina adalah tempat yang indah. Setiap sore aku mengerjakan pr atau sekedar jalan-jalan di pasir hangatnya. Aku juga sering bergabung dengan kapal turis dan melihat lumba-lumba di pagi buta sebelum sekolah. Kegiatan yang pertama dilarang Meme, tapi akhirnya diperbolehkan juga. Karena ia percaya pada Dharma, anak laki-laki yang tinggal di banjar sebelah.
Dharma. Betapa aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali. Dia tidak menunjukkan batang hidungnya saat detik-detik menjelang kepergianku ke Jakarta untuk orientasi. Pun tak ada juga ia di Bandara saat aku mau lepas landas. Kata Ibunya dia mau berakhir pekan di Ubud mengunjungi saudaranya. Tapi menurutku, alasannya lebih dari sekedar mengunjungi saudara.
Dharma dari awal sudah tidak setuju dengan rencanaku untuk apply beasiswa ke Amerika dan Eropa. “Untuk apa? Kamu masih kelas 1 SMA. Kalau mau sekolah di luar, nanti saja, saat kuliah. Aji juga punya rencana supaya aku kuliah di Australia. Nanti kita bisa sama-sama kuliah disana, supaya dekat.”
Dharma tidak bisa mengerti keinginan anehku untuk pergi ke tempat-tempat jauh. Merantau ke negri orang untuk belajar. Aku hanya ingin melihat tempat-tempat di luar negri, tempat-tempat yang belum kesampaian aku kunjungi. Meme setuju dengan pilihanku, mungkin karena Meme pada dasarnya juga mempunyai jiwa petualang. Apalagi Bapak yang dari SMA sudah bertualang. Bersama mereka membangun bisnis travel and tour dan bepergian berdua. Melihat mereka, aku ingin mengalami itu juga.
Satu-satunya alasanku untuk menenangkan Dharma adalah perkataan, “Tapi aku belum tentu dapat kesempatan ini, Dhar. Pendaftarnya berasal dari seluruh Indonesia, sekitar lima ribu orang. Sementara yang diterima tidak lebih dari 30 orang. Kemungkinan aku bisa lulus itu kecil.”
Tapi setelah pengumuman aku lolos dan mendapat kesempatan belajar di Amerika selama satu tahun, tak jua ia marah juga. Aku mengerti alasannya. Ia adalah temanku sejak kecil, sejak aku bisa mengingat, Dharma sudah ada disampingku. Jarak dua tahun antara kita tidak menghalangi. Mungkin karena aku anak tunggal, dan saat itu Dharma cocok dengan bayangan kakak laki-laki sebagai teman bermain.
Saat itu aku dan Dharma sedang membakar ikan tangkapan kami di bawah pohon kelapa menghadap matahari tenggelam. Pantai Lovina saat itu sedang sepi, dan sektor pariwisatanya menurun karena resesi ekonomi di Amerika. “Dhar, bagaimana kalau aku jadi pergi belajar di luar?” tanyaku takut-takut. Aku sudah mempersiapkan ini sejak awal. Aku tahu Dharma akan menerimanya dengan keras. Tapi mau bagaimana lagi, ini mimpiku, dan aku tak akan meninggalkan mimpiku hanya karena salah seorang temanku tidak setuju. Tidak, dia bukan hanya salah satu temanku. Dia satu-satunya teman yang tahu aku. Mengerti. Tapi tetap saja.
Dharma diam saja. Dia hanya mengipasi dan bolak-balik ikan, tanpa mengacuhkan perkataanku. “Dhar, aku sudah dapat surat pengumuman beasiswa itu.” kataku lagi. Kali ini aku dapat perhatiannya. Dia menatap mataku. Matanya gelap dan berkilat-kilat. Hanya beberapa detik, lalu dia fokus kembali ke ikannya, tanpa bicara sepatah katapun. Untuk beberapa detik, aku tidak bisa menemukan napasku. Apa yang ada di kepalanya? Apa Dharma marah? Atau jangan-jangan dia sudah tahu tentang hasil beasiswa itu?
“Dhar…”
“Kamu akan pergi kapan, Din?” tanya Dharma tenang, masih menghadap ikan yang ia bakar.
Pertanyaannya mengejutkanku. “Eh… Aku…” aku membersihkan tenggorokanku yang tiba-tiba serak dan menarik napas dalam, “Aku berangkat ke Jakarta bulan depan”
Aku duduk di salah satu kafe kecil, mengamati kesibukan Bandara Frankfurt di awal musim semi ini. Perasaanku masih campur aduk, terbawa penerbangan 18 jam tadi. “Au, mau ikut keliling-keliling ngga? Kita cuma beberapa jam loh disini.” tanya Gia, teman se-host country-ku. “Duluan aja deh, aku mau istirahat dulu.” jawabku. Rasanya memang aku sedang malas walaupun hanya sekedar melihat-lihat. “Mau ditemani ngga? Audin jangan sedih terus dong. Kita udah di Jerman nih! Jerman!” sahut Ghana bahagia. Diantara tiga puluh orang pertukaran pelajar, memang Ghana yang paling semangat disaat yang lain bersedih-sedih meninggalkan keluarga dan teman-teman di Indonesia. “Ngga usah, Ghan. Aku emang lagi capek. Kalian jalan-jalan aja, aku yang jagain tas.”
Begitu mereka pergi, aku merapikan paspor, handphone, dan barang-barang penting agar mudah dijangkau di tas kecil yang aku sampirkan di leher. Saat sedang mengecek kantong depan, aku menemukan liontin berbandul batu kecubung. Otomatis aku paksa air mataku yang sudah ada di belakang mata untuk kembali, aku surukkan kalung itu kembali ke tempat asalnya, dan aku paksa tanganku untuk melakukan hal lain. Untuk mengalihkan perhatian dari si kalung itu, atau tepatnya pemberinya.
”Sial! Sial, sial, sial! Apa belum cukup kamu menangis hampir setengah jalan kesini, Audina? Belum cukup? Sekarang kamu mau menangis lagi, tapi apa gunanya? Apa setelah kamu menangis, dia tiba-tiba akan disebelahmu? Atau tiba-tiba kamu ada di Indonesia?” Batinku berteriak. Tapi aku tidak tahan juga. Tidak ada gunanya aku packing ulang bagasiku, yang akan berakhir dengan kesusahanku sendiri. Aku paksa diriku menghadapi kenyataan.
Aku menerawang jauh melihat pesawat baru saja lepas landas di langit keunguan. Tanpa sadar aku telah menggenggam liontin itu dan kembali ke peristiwa beberapa jam yang lalu…
Setiap kali gue minta kepastian bakal dibehel apa ngga, ibu pasti malemnya bilang ke bapak “Bapak, mbak ninis mau dikawat giginya” terus bapak cuma ngomong ngga jelas, setelah itu topiknya selesai disitu dan akhirnya gantung.
Udah 2 tahun kayak gitu. Gue capek.
Ada apa sih dengan dibehel? Apa gue salah kalo minta dibehel? Gigi gue emang super duper berantakan! Kenapa ngga ada yang ngerti?
Gue ngga pernah pede sama gigi gue, wajah gue, badan gue. I live in insecurity. Kenapa gue ngga kayak adek aja yang cuek dan ngga peduli sama penampilan tapi terlahir dengan membawa setiap gen baik dari bapak dan ibu? Kenapa gue yang membawa gen yang jelek dari bapak dan ibu? jerawatan, kulit kusam, gigi berantakan, kaki bau, gampang keringetan, bungkuk, badan ngga proporsional, tulang muka yang panjang dan ngga jelas, ngga punya alis, kaki yang pendek dan badan yang panjang dan ngga normal……………………………………. Gue emang sangat ngga bersyukur. Tapi… entahlah. Dari kecil bapak ibu emang ngebiasain gue hidup pas2an meskipun gue tau bapak sama ibu bisa ngasih gue materi sama kayak anak2 lain. Tapi gue tumbuh jadi orang yang sinis akan kegemerlapan dan jadi munafik. Di depan temen2 gue akan bertingkahlaku terpuji. Seakan2 gue selalu bersyukur akan apa yang gue punya, gue yang kuat, mandiri, dan cuek. Tapi di dalamnya gue selalu merasa kekurangan dan ngga pede.
Apa juga yang salah sama gue? Kenapa sampe sekarang gue belum pernah punya pacar? Kalo gue ngeliat orang yang, andaikata, mukanya jelek, tapi dia tetep punya pacar. Ada juga yang pinterr kerjaannya belajar mulu, tapi dia tetep punya pacar. Ada orang yang standar banget mukanya tapi gayanya selangit dan super nyebelin, tapi dia punya pacar. Kenapa gue ngga? Kenapa ngga ada yang suka sama gue?
Apa yang salah sama gue?
“Hope
Smiles from the threshold of the year to come,
Whispering ‘it will be happier’…”― Alfred Lord Tennyson
Hari ini bagi rapot. Seperti biasa gue udah liburan duluan, jadi ambil rapotnya setelah masuk nanti. Gimana nilai rapot pertama gue di Smansa? Tidak bagus, itu sih jangan di tanya lagi.
Tadi malem gue mimpi buruk. Gue mimpi ulangan Biologi, tapi yang diisi cuma setengahnya, karena gue ngga tau ternyata ada soal lain di balik kertas itu. Apa mungkin itu pertanda? Hhhh, lagi pula dari awal gue udah tau gue pasti mempunyai nilai yang jelek. Walaupun sebenernya nilai gue yang sangat jelek itu cuma pelajaran IPA doang, tetep aja itu berpengaruh.
Dari kemarin kepala gue sakiiiiit banget dan perut gue melilit. Apa ini pertanda juga kalo rapot gue jelek? :/ Yaah, yang berlalu biarlah berlalu. Yang pasti gue mengincar SNMPTN Undngan ke UGM yang dimulai dari rapot semester 3. Berarti saat gue udah di IPS. Itu pilihan gue, IPS. Semoga di IPS nanti gue bisa lebih bersinar karena pelajaran-pelajarannya emang kesukaan gue :)
HAMASAH NINIS!!!!!!!!!